Rencana Sepuluh Poin Iran — Batas Bawah Negosiasi di Teheran dan Perhitungan Strategis



Rencana Sepuluh Poin yang diajukan Iran kepada pihak AS melalui Pakistan adalah pedoman inti bagi negosiasi gencatan senjatanya. Menurut pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, rencana ini memuat beberapa ketentuan kunci.

Dari segi isi, tuntutan Iran mencakup berbagai permintaan yang menyeluruh mulai dari kerangka keamanan regional hingga sanksi ekonomi. Aspek keamanan: menuntut koordinasi dan pengendalian bersama atas lalu lintas Selat Hormuz dengan satuan-satuan bersenjata Iran; membangun protokol keamanan lintas jalur di Selat Hormuz untuk memastikan Iran memiliki posisi dominan; mengakhiri perang terhadap semua anggota “Poros Perlawanan”, serta mengakhiri agresi rezim Israel; menarik seluruh pasukan tempur AS dari semua pangkalan dan titik penempatan di kawasan tersebut. Aspek ekonomi: menuntut pencabutan semua sanksi tingkat satu dan tingkat dua serta resolusi terkait di Dewan Keamanan; membebaskan semua aset dan properti Iran yang dibekukan di luar negeri; melakukan kompensasi penuh atas kerugian Iran berdasarkan hasil penilaian. Aspek nuklir: Iran menjadikan hak pengayaan uranium sebagai batas bawah negosiasi, dan menuntut agar pihak AS menerima kegiatan pengayaan uranium Iran. Aspek prosedural: semua capaian negosiasi harus disetujui melalui resolusi Dewan Keamanan yang bersifat mengikat.

Saat menyerahkan rencana ini, Iran menyatakan secara tegas bahwa tujuan negosiasi adalah untuk secara politis mengonfirmasi capaian Iran di medan perang dalam waktu paling lama 15 hari. Negosiasi dengan AS tidak berarti mengakhiri perang; hanya setelah rincian diselesaikan sesuai dengan “Rencana Sepuluh Poin” yang diajukan Iran, barulah Iran akan menerima penghentian perang.

Iran juga menegaskan kembali sikapnya yang keras. Pemimpin Tertinggi, Mujtaba Khamenei, menyatakan bahwa Iran tidak akan membiarkan para agresor lolos, dan akan mengejar kompensasi atas kerugian perang serta utang darah para syuhada. Ketua parlemen Iran, Ghalibaf, mengatakan bahwa hanya jika AS tidak lagi melanggar kesepakatan gencatan senjata, barulah Iran akan mempertimbangkan negosiasi; jika tidak, konflik akan kembali terjadi, dan rakyat serta militer Iran telah bersiap untuk itu. Jika negosiasi gagal, Iran sudah siap untuk bertempur.

Sikap Trump terhadap “Rencana Sepuluh Poin” Iran mengalami perubahan yang cepat. Tepat pada malam sebelum gencatan senjata tercapai, Trump pernah mengatakan bahwa ia telah menerima usulan 10 poin dari Iran, “dan menganggap proposal tersebut dapat menjadi dasar yang layak untuk menjalankan negosiasi”. Namun setelah Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon, Trump mengubah nada dan berkata “10 ketentuan sepenuhnya palsu”, “murni penipuan yang direkayasa”. Pihak AS menyatakan bahwa mereka menolak 10 ketentuan gencatan senjata yang mula-mula diajukan pihak Iran, lalu pihak Iran kemudian mengajukan rencana baru. Wakil Presiden AS, Vance, secara blak-blakan mengatakan bahwa Iran “mengira kesepakatan gencatan senjata mencakup Lebanon, tetapi sebenarnya tidak”.

Di balik benturan persepsi ini, terlihat adanya ketidakpercayaan yang mendalam antara AS dan Iran. Dalam pernyataannya, ketua parlemen Iran, Ghalibaf, menyebut: “Sejak awal, kami sudah memiliki ketidakpercayaan historis yang mendalam terhadap Amerika, sebagaimana yang sudah diperkirakan—bahkan sebelum negosiasi dimulai, Amerika sudah melanggar janjinya.”

Delegasi perunding Iran telah berangkat ke Islamabad pada 9 April. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Hatibzad, mengonfirmasi bahwa delegasi Iran akan pergi ke Islamabad untuk menghadiri negosiasi perdamaian. Namun prasyarat negosiasi dari pihak Iran sangat jelas—Israel harus menghentikan serangannya terhadap Lebanon. Pejabat keamanan tertinggi Iran mengatakan: “Jika serangan terhadap Lebanon tidak dihentikan, tidak akan ada negosiasi apa pun.” Ketua parlemen Iran, Ghalibaf, juga memperingatkan bahwa pelanggaran kesepakatan gencatan senjata akan menimbulkan biaya dan konsekuensi yang jelas.

Di dalam negeri Iran, juga terdapat pandangan yang berbeda terkait negosiasi. Namun Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyerukan agar semua faksi politik dan rakyat Iran mendukung negosiasi, sambil mengingatkan bahwa jika negosiasi gagal, Iran tidak akan ragu untuk memulai perang lagi. “Kami sudah siap untuk berperang. Jika musuh sedikit saja goyah, kami akan melakukan balasan dengan kekuatan penuh.
#Gate廣場四月發帖挑戰
Lihat Asli
post-image
post-image
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • 1
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
RiverOfPassion
· 9jam yang lalu
Duduklah dengan stabil dan pegang dengan erat, kita akan segera lepas landas🛫
Lihat AsliBalas0
  • Sematkan