Langkah Indonesia untuk membatasi Grok telah memicu perdebatan seputar sensor teknologi vs. regulasi yang sah. Pemerintah mengutip kekhawatiran tentang konten eksplisit yang dihasilkan AI—tapi inilah halnya: model generatif seperti ChatGPT dan Gemini dapat menghasilkan output serupa saat diberi prompt, namun mereka beroperasi secara bebas di wilayah tersebut. Jadi, apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kita sedang melihat pembuatan kebijakan yang konsisten, atau penegakan yang selektif? Setiap teknologi dapat disalahgunakan. Masalahnya bukan apakah penyalahgunaan ada—tentu saja ada—tetapi apakah respons regulasi diterapkan secara seragam di seluruh bidang. Ketika satu platform AI menghadapi pembatasan sementara yang lain tidak, meskipun risikonya sebanding, itu mulai terlihat kurang seperti tata kelola yang bijaksana dan lebih seperti memilih pihak. Ketidakkonsistenan itu sendiri menjadi cerita.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
7 Suka
Hadiah
7
7
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
MysteryBoxOpener
· 5jam yang lalu
Penegakan hukum yang selektif ya, ini benar-benar klise. ChatGPT dan Gemini tetap bisa menghasilkan hal-hal itu, kenapa Grok yang jadi sasaran? Bagaimanapun juga aku tidak mengerti logika ini
Lihat AsliBalas0
rugged_again
· 01-10 13:54
ngl Ini jelas double standard, grok diblokir sementara ChatGPT tetap aktif... benar-benar bikin tertawa
Lihat AsliBalas0
StrawberryIce
· 01-10 13:50
Penegakan hukum yang selektif hanyalah sebuah lelucon, ChatGPT dan Gemini juga bisa menghasilkan konten seperti itu, mengapa tidak ada masalah?
Lihat AsliBalas0
BearMarketSurvivor
· 01-10 13:49
Penegakan hukum yang selektif, singkatnya ada yang harus dihukum, ada yang bisa lolos. chatgpt gemini tetap bisa menghasilkan konten tersebut, kenapa tidak dilarang? Teknik ini sudah sangat kuno dan basi.
Lihat AsliBalas0
LazyDevMiner
· 01-10 13:42
Penegakan hukum selektif ini, semua pemerintah negara bermain dengan sangat lihai
Lihat AsliBalas0
GasFeeTears
· 01-10 13:39
Penegakan hukum yang selektif, ini bukan kali pertama. ChatGPT dan Gemini sama-sama bisa menghasilkan hal-hal seperti itu, kok Grok yang kena hukuman mati? Hanya permainan politik saja
Lihat AsliBalas0
ReverseTradingGuru
· 01-10 13:33
Double standard, apa lagi... ChatGPT bisa menghasilkan hal itu, kenapa cuma untuk Grok? Sangat luar biasa
Langkah Indonesia untuk membatasi Grok telah memicu perdebatan seputar sensor teknologi vs. regulasi yang sah. Pemerintah mengutip kekhawatiran tentang konten eksplisit yang dihasilkan AI—tapi inilah halnya: model generatif seperti ChatGPT dan Gemini dapat menghasilkan output serupa saat diberi prompt, namun mereka beroperasi secara bebas di wilayah tersebut. Jadi, apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kita sedang melihat pembuatan kebijakan yang konsisten, atau penegakan yang selektif? Setiap teknologi dapat disalahgunakan. Masalahnya bukan apakah penyalahgunaan ada—tentu saja ada—tetapi apakah respons regulasi diterapkan secara seragam di seluruh bidang. Ketika satu platform AI menghadapi pembatasan sementara yang lain tidak, meskipun risikonya sebanding, itu mulai terlihat kurang seperti tata kelola yang bijaksana dan lebih seperti memilih pihak. Ketidakkonsistenan itu sendiri menjadi cerita.