Seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) membuat pernyataan mencolok mengenai Selat Hormuz. Menurut pernyataan tersebut, negara-negara Arab dan Eropa yang mengusir duta besar AS dan Israel akan diberikan jalur bebas melalui Selat Hormuz. Ini diartikan sebagai upaya Teheran untuk meningkatkan dukungan diplomatik di kawasan dan mencoba menggunakan pengaruhnya di tengah konflik antara AS dan Israel.


Namun, pernyataan ini telah memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas maritim di kawasan.
Setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, ketegangan dengan cepat meningkat, dan IRGC mengumumkan pada 2 Maret bahwa mereka telah menutup Selat Hormuz. Akibatnya, sekitar 150 kapal tanker terdampar dan mengganggu secara serius transportasi maritim komersial.
Krisis Selat Hormuz 2026 pecah setelah operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone.
Pada 5 Maret, Pasukan Pengawal Revolusi mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hanya untuk kapal milik AS, Israel, dan sekutu Barat mereka, sementara kapal lain diizinkan lewat. Bahkan ada laporan pada 4 Maret bahwa hanya kapal China yang diizinkan lewat karena dukungan China terhadap Iran.
Perkembangan ini mengejutkan pasar energi global, menyebabkan harga minyak naik di atas $100 per barrel. Peringatan dikeluarkan bahwa harga minyak Brent bisa naik sebesar 10-13% jika selat benar-benar ditutup.
Sejak awal krisis, banyak kapal komersial yang rusak, dan setidaknya delapan pelaut kehilangan nyawanya. Perusahaan pengangkutan kontainer besar seperti Maersk, MSC Group, dan Hapag-Lloyd telah menangguhkan atau membatasi operasi mereka di kawasan.
Para ahli mengatakan bahwa penutupan total selat oleh Iran akan merusak ekonomi mereka sendiri secara serius dan memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Namun, retorika dan aktivitas regional Iran juga digunakan sebagai kekuatan strategis, terutama dalam hal ketergantungan energi Eropa dan pengaruh Rusia terhadap Eropa.
#GlobalOilPricesSurgePast$100
Lihat Asli
User_anyvip
Seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) membuat pernyataan mencolok mengenai Selat Hormuz. Menurut pernyataan tersebut, negara-negara Arab dan Eropa yang mengusir duta besar AS dan Israel akan diberikan jalur bebas melalui Selat Hormuz. Ini diartikan sebagai upaya Teheran untuk meningkatkan dukungan diplomatik di kawasan dan mencoba menggunakan pengaruhnya di tengah konflik antara AS dan Israel.

Namun, pernyataan ini telah memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan maritim di kawasan.

Setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, ketegangan dengan cepat meningkat, dan IRGC mengumumkan pada 2 Maret bahwa mereka telah menutup Selat Hormuz. Akibatnya, sekitar 150 kapal tanker terdampar dan mengganggu secara serius transportasi maritim komersial.

Krisis Selat Hormuz 2026 pecah setelah operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone.

Pada 5 Maret, Pasukan Pengawal Revolusi mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hanya untuk kapal milik AS, Israel, dan sekutu Barat mereka, sementara kapal lain diizinkan lewat. Bahkan ada laporan pada 4 Maret bahwa hanya kapal China yang diizinkan lewat karena dukungan China terhadap Iran.

Perkembangan ini mengejutkan pasar energi global, menyebabkan harga minyak naik di atas $100 per barrel. Peringatan dikeluarkan bahwa harga minyak Brent bisa naik sebesar 10-13% jika selat benar-benar ditutup.

Sejak awal krisis, banyak kapal komersial yang rusak, dan setidaknya delapan pelaut kehilangan nyawanya. Perusahaan pengangkutan kontainer besar seperti Maersk, MSC Group, dan Hapag-Lloyd telah menangguhkan atau membatasi operasi mereka di kawasan.

Para ahli mengatakan bahwa penutupan total selat oleh Iran akan sangat merugikan ekonominya sendiri dan memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Namun, retorika dan aktivitas regional Iran juga digunakan sebagai kekuatan strategis, terutama dalam hal ketergantungan energi Eropa dan pengaruh Rusia terhadap Eropa.
#GlobalOilPricesSurgePast$100
repost-content-media
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan