#USCoreCPIHitsFour-YearLow Pada 17 Februari 2026, data inflasi terbaru AS mengirim sinyal kuat di seluruh pasar global. Setelah penundaan singkat akibat penutupan sebagian pemerintah, Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari 2026 — dan angka tersebut lebih lembut dari yang diperkirakan. Ini langsung memicu diskusi besar di kalangan investor, analis, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.
CPI headline naik 2,4% tahun-ke-tahun, turun dari 2,7% di Desember 2025 dan di bawah ekspektasi pasar. Yang lebih penting, CPI inti — yang mengecualikan makanan dan energi dan dipantau secara ketat oleh Federal Reserve — mereda menjadi 2,5%, level terendah dalam hampir empat tahun. Ini mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi dari era pasca-pandemi terus berangsur-angsur memudar. Secara bulanan, inflasi headline meningkat hanya sebesar 0,2%, sementara CPI inti naik 0,3%, keduanya sebagian besar sesuai dengan perkiraan. Penurunan harga energi, melonggarnya biaya perumahan, menurunnya harga mobil bekas, dan stabilnya inflasi makanan adalah faktor utama di balik moderasi ini. Bersama-sama, tren ini menunjukkan bahwa stabilitas harga secara perlahan kembali ke ekonomi AS. 📊 Implikasi Kebijakan dan Ekonomi Laporan inflasi yang lebih lembut ini memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter mungkin segera beralih ke pelonggaran. Peserta pasar kini percaya bahwa pemotongan suku bunga bisa dimulai pada pertengahan 2026, terutama jika data mendatang tetap mendukung. Menurut alat penetapan harga yang terkait dengan CME Group, probabilitas pemotongan suku bunga di akhir tahun meningkat tajam setelah rilis CPI. Pasar obligasi langsung merespons. Imbal hasil Treasury turun, mengurangi biaya pinjaman bagi rumah tangga dan bisnis. Pada saat yang sama, dolar AS melemah secara modest, meningkatkan kondisi untuk perdagangan global, komoditas, dan pasar berkembang. Pertumbuhan upah riil juga membaik, memperkuat daya beli konsumen dan mendukung skenario “pendaratan lunak”. Namun, pembuat kebijakan tetap berhati-hati. Beberapa harga di sektor jasa masih tinggi, dan perubahan kebijakan di masa depan, tarif, atau ketegangan geopolitik bisa memperkenalkan kembali risiko inflasi. Untuk saat ini, Federal Reserve tetap bergantung pada data, memantau secara ketat laporan CPI, PCE, dan ketenagakerjaan yang akan datang. 💹 Dampak terhadap Pasar Keuangan dan Kripto Inflasi yang lebih rendah dan meningkatnya ekspektasi pemotongan suku bunga menciptakan suasana “risiko-tinggi”. Pasar saham menguat, dan aset yang sensitif terhadap likuiditas mendapat manfaat dari kepercayaan investor yang diperbarui. Cryptocurrency, yang sering berkinerja baik selama periode pelonggaran moneter, merespons secara khusus sangat kuat. Setelah rilis CPI, pasar kripto melonjak tajam. Bitcoin melonjak sekitar 4–6% dalam waktu singkat dan merebut kembali level psikologis penting di $70.000. Aset digital utama lainnya mengikuti dengan kenaikan 5–10%, sementara kapitalisasi pasar secara keseluruhan bertambah puluhan miliar dolar. Reaksi ini mencerminkan beberapa faktor: ekspektasi modal yang lebih murah, masuknya aliran institusional yang diperbarui, aktivitas short-covering, dan peningkatan partisipasi ritel. Inflasi yang lebih rendah mengurangi ketakutan akan kebijakan ketat yang berkepanjangan, mendorong investor mencari hasil yang lebih tinggi di aset berbasis pertumbuhan dan alternatif. 📈 Analisis Pergerakan Harga Bitcoin Sebelum laporan, Bitcoin telah mengkonsolidasi antara $65.000 dan $68.000 di tengah sinyal makro yang campur aduk. Sentimen pasar berhati-hati, dan momentum melambat. Pembacaan CPI yang lebih lembut bertindak sebagai katalis, memicu breakout cepat dan mendorong harga di atas $70.000. Dalam beberapa hari berikutnya, beberapa pengambilan keuntungan terjadi, dan harga stabil di dekat kisaran $68.000–$69.000. Meskipun terjadi koreksi ini, Bitcoin tetap jauh di atas level sebelum laporan, mengonfirmasi bahwa data CPI telah memperkuat tren bullish yang lebih luas. Rebound ini juga membantu mengembalikan kepercayaan di kalangan trader, mencegah koreksi yang lebih dalam dan memperkuat zona dukungan jangka panjang. 🔮 Pandangan Jangka Panjang dan Risiko Jika data inflasi di masa depan terus menunjukkan disinflasi, kondisi keuangan bisa semakin melonggarkan, memberikan dukungan berkelanjutan untuk kripto dan aset risiko lainnya. Banyak analis kini melihat potensi target harga yang lebih tinggi dalam siklus mendatang, didorong oleh ekspansi likuiditas dan peningkatan partisipasi institusional. Namun, risiko tetap ada. Kembalinya inflasi, data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, penundaan pemotongan suku bunga, atau ketegangan politik global bisa membalikkan optimisme saat ini. Pasar juga bisa bereaksi berlebihan terhadap data individu sebelum melakukan recalibrasi. ✅ Perspektif Akhir Laporan CPI Januari 2026 menandai titik balik makro besar. Inflasi inti yang mencapai level terendah dalam empat tahun meredakan kekhawatiran kebijakan, memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga, melemahkan dolar secara sementara, dan memicu reli pelepasan yang kuat di pasar keuangan dan kripto. Bagi trader dan investor, peristiwa ini sekali lagi menunjukkan mengapa data inflasi AS tetap menjadi salah satu pendorong utama likuiditas, sentimen, dan posisi pasar. Seiring berjalannya 2026, CPI dan kebijakan Fed akan terus memainkan peran sentral dalam membentuk fase berikutnya dari momentum pasar.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
#USCoreCPIHitsFour-YearLow Pada 17 Februari 2026, data inflasi terbaru AS mengirim sinyal kuat di seluruh pasar global. Setelah penundaan singkat akibat penutupan sebagian pemerintah, Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari 2026 — dan angka tersebut lebih lembut dari yang diperkirakan. Ini langsung memicu diskusi besar di kalangan investor, analis, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.
CPI headline naik 2,4% tahun-ke-tahun, turun dari 2,7% di Desember 2025 dan di bawah ekspektasi pasar. Yang lebih penting, CPI inti — yang mengecualikan makanan dan energi dan dipantau secara ketat oleh Federal Reserve — mereda menjadi 2,5%, level terendah dalam hampir empat tahun. Ini mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi dari era pasca-pandemi terus berangsur-angsur memudar.
Secara bulanan, inflasi headline meningkat hanya sebesar 0,2%, sementara CPI inti naik 0,3%, keduanya sebagian besar sesuai dengan perkiraan. Penurunan harga energi, melonggarnya biaya perumahan, menurunnya harga mobil bekas, dan stabilnya inflasi makanan adalah faktor utama di balik moderasi ini. Bersama-sama, tren ini menunjukkan bahwa stabilitas harga secara perlahan kembali ke ekonomi AS.
📊 Implikasi Kebijakan dan Ekonomi
Laporan inflasi yang lebih lembut ini memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter mungkin segera beralih ke pelonggaran. Peserta pasar kini percaya bahwa pemotongan suku bunga bisa dimulai pada pertengahan 2026, terutama jika data mendatang tetap mendukung. Menurut alat penetapan harga yang terkait dengan CME Group, probabilitas pemotongan suku bunga di akhir tahun meningkat tajam setelah rilis CPI.
Pasar obligasi langsung merespons. Imbal hasil Treasury turun, mengurangi biaya pinjaman bagi rumah tangga dan bisnis. Pada saat yang sama, dolar AS melemah secara modest, meningkatkan kondisi untuk perdagangan global, komoditas, dan pasar berkembang. Pertumbuhan upah riil juga membaik, memperkuat daya beli konsumen dan mendukung skenario “pendaratan lunak”.
Namun, pembuat kebijakan tetap berhati-hati. Beberapa harga di sektor jasa masih tinggi, dan perubahan kebijakan di masa depan, tarif, atau ketegangan geopolitik bisa memperkenalkan kembali risiko inflasi. Untuk saat ini, Federal Reserve tetap bergantung pada data, memantau secara ketat laporan CPI, PCE, dan ketenagakerjaan yang akan datang.
💹 Dampak terhadap Pasar Keuangan dan Kripto
Inflasi yang lebih rendah dan meningkatnya ekspektasi pemotongan suku bunga menciptakan suasana “risiko-tinggi”. Pasar saham menguat, dan aset yang sensitif terhadap likuiditas mendapat manfaat dari kepercayaan investor yang diperbarui. Cryptocurrency, yang sering berkinerja baik selama periode pelonggaran moneter, merespons secara khusus sangat kuat.
Setelah rilis CPI, pasar kripto melonjak tajam. Bitcoin melonjak sekitar 4–6% dalam waktu singkat dan merebut kembali level psikologis penting di $70.000. Aset digital utama lainnya mengikuti dengan kenaikan 5–10%, sementara kapitalisasi pasar secara keseluruhan bertambah puluhan miliar dolar.
Reaksi ini mencerminkan beberapa faktor: ekspektasi modal yang lebih murah, masuknya aliran institusional yang diperbarui, aktivitas short-covering, dan peningkatan partisipasi ritel. Inflasi yang lebih rendah mengurangi ketakutan akan kebijakan ketat yang berkepanjangan, mendorong investor mencari hasil yang lebih tinggi di aset berbasis pertumbuhan dan alternatif.
📈 Analisis Pergerakan Harga Bitcoin
Sebelum laporan, Bitcoin telah mengkonsolidasi antara $65.000 dan $68.000 di tengah sinyal makro yang campur aduk. Sentimen pasar berhati-hati, dan momentum melambat. Pembacaan CPI yang lebih lembut bertindak sebagai katalis, memicu breakout cepat dan mendorong harga di atas $70.000.
Dalam beberapa hari berikutnya, beberapa pengambilan keuntungan terjadi, dan harga stabil di dekat kisaran $68.000–$69.000. Meskipun terjadi koreksi ini, Bitcoin tetap jauh di atas level sebelum laporan, mengonfirmasi bahwa data CPI telah memperkuat tren bullish yang lebih luas.
Rebound ini juga membantu mengembalikan kepercayaan di kalangan trader, mencegah koreksi yang lebih dalam dan memperkuat zona dukungan jangka panjang.
🔮 Pandangan Jangka Panjang dan Risiko
Jika data inflasi di masa depan terus menunjukkan disinflasi, kondisi keuangan bisa semakin melonggarkan, memberikan dukungan berkelanjutan untuk kripto dan aset risiko lainnya. Banyak analis kini melihat potensi target harga yang lebih tinggi dalam siklus mendatang, didorong oleh ekspansi likuiditas dan peningkatan partisipasi institusional.
Namun, risiko tetap ada. Kembalinya inflasi, data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, penundaan pemotongan suku bunga, atau ketegangan politik global bisa membalikkan optimisme saat ini. Pasar juga bisa bereaksi berlebihan terhadap data individu sebelum melakukan recalibrasi.
✅ Perspektif Akhir
Laporan CPI Januari 2026 menandai titik balik makro besar. Inflasi inti yang mencapai level terendah dalam empat tahun meredakan kekhawatiran kebijakan, memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga, melemahkan dolar secara sementara, dan memicu reli pelepasan yang kuat di pasar keuangan dan kripto.
Bagi trader dan investor, peristiwa ini sekali lagi menunjukkan mengapa data inflasi AS tetap menjadi salah satu pendorong utama likuiditas, sentimen, dan posisi pasar. Seiring berjalannya 2026, CPI dan kebijakan Fed akan terus memainkan peran sentral dalam membentuk fase berikutnya dari momentum pasar.