Penunjukan calon Wakil Presiden Pence, bukan sekadar pergantian personel biasa, melambangkan perubahan mendasar dalam konservatisme Amerika Serikat. Dua jam setelah insiden percobaan penembakan di Pennsylvania pada Juli 2024, Senator Republik Ohio J.D. Vance mengeluarkan pernyataan di media sosial yang menyatakan bahwa retorika kampanye Biden secara langsung memicu kekerasan terhadap Trump. Beberapa hari kemudian, Trump menunjuk Vance sebagai calon Wakil Presiden. Di balik pilihan ini terdapat rekonstruksi dramatis struktur kekuasaan dalam Partai Republik selama delapan tahun terakhir.
Ujian Kesetiaan Partai Republik—Perubahan Cepat dalam Politik Vance
Bagi mereka yang mengetahui posisi Vance pada 2016, posisi saat ini adalah perubahan yang mencengangkan. Saat itu, dia berusia 39 tahun dan merupakan salah satu politikus yang paling cepat naik daun setelah Obama. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuannya yang langka mengubah pengalaman hidupnya menjadi narasi sosial yang meyakinkan. Dibesarkan oleh kakek-nenek di wilayah Appalachia Ohio, dengan ibu yang mengalami kecanduan alkohol, pernah bertugas di Irak, dan menempuh pendidikan di Ohio State University serta Yale Law School—latar belakang ini mewujudkan memoarnya yang berjudul “Song of the South” yang diterbitkan pada 2016.
Namun, pada waktu yang sama, Vance sangat kritis terhadap Trump. Selama kampanye 2016, dia mengirim pesan kepada mantan teman sekamarnya yang menyebut Trump sebagai “orang bodoh seperti Nixon, atau Hitler Amerika.” Rasa antipati ini tidak berubah bahkan saat dia berkarier sebagai venture capitalist di Silicon Valley dan saat film “Song of the South” yang didasarkan pada bukunya dibuat oleh Ron Howard pada 2020.
Ketika Vance mencalonkan diri untuk kursi Senat Ohio pada 2022, situasi politik telah berubah secara dramatis. Iklan kampanyenya yang awalnya menonjolkan perlawanan terhadap elit liberal, menyatakan, “Media menyebut saya rasis karena ingin membangun tembok Trump, tetapi itu tidak mengubah fakta.” Pesan ini bertentangan dengan kritiknya terhadap Trump beberapa tahun sebelumnya.
Pada saat itu, Vance mengakui bahwa dia tidak mendukung Trump sejak awal, tetapi dia mulai menyatakan bahwa miliarder tersebut “mengungkapkan korupsi yang tersembunyi di negara ini.” Pelembutan sikap ini tampaknya lebih mencerminkan perubahan mendasar dalam pandangannya daripada kalkulasi politik semata. Antara 2019 dan 2020, Vance menyatakan bahwa dia telah mengubah pandangannya tentang esensi liberalisme. Dia merasa bahwa intelektual liberal membaca Carl Schmitt dan mengikuti gagasan bahwa “tidak ada hukum, hanya kekuasaan.”
Dalam empat tahun berikutnya, Vance secara vokal mengecam tuduhan kekerasan seksual terhadap Trump dan menyatakan bahwa jika dia menjadi Wakil Presiden pada 6 Januari 2021, dia akan mengesahkan daftar “pemilih pengganti” yang diminta Trump dan “berjuang dari dalam” Kongres. Pernyataan ini menegaskan posisi Vance dalam Partai Republik dan sekaligus menunjukkan seberapa jauh dia telah berbalik mendukung Trump dalam lingkungan politik saat ini.
Dari Perwakilan Kelas Pekerja ke Wakil Presiden—Simbol Kebangkitan Populisme
Hal paling penting dari penunjukan Vance sebagai calon Wakil Presiden adalah pergantian generasi dalam konservatisme. Seperti senator lain dari generasinya, misalnya Tom Cotton dari Arkansas, Josh Hawley dari Missouri, dan Marco Rubio dari Florida, Vance menegaskan perlunya Partai Republik keluar dari prinsip pasar bebas era Reagan.
“Gerakan konservatif Partai Republik harus meninjau kembali doktrin ekonomi dari tahun 1980-an dan 1990-an agar dapat mempertahankan mayoritas yang berkelanjutan,” kata Vance dalam acara di American Rombard Institute pada 2023. Kata-kata ini bukan sekadar retorika, melainkan menunjukkan perubahan arah teoretis partai. Dia mendukung tarif dan mendorong anggota Partai Republik untuk bekerja sama dengan serikat pekerja.
Dalam wawancara Februari, Vance menyatakan, “Posisi politik nenek saya adalah gabungan antara sosial demokrasi sayap kiri dan peningkatan individu sayap kanan, dan kedua pandangan itu memiliki keunggulan.” Namun, seperti yang dikritik kolumnis Washington Post, kerja sama nyata dengan serikat pekerja saat ini masih sebatas kata-kata. Gerakan buruh arus utama masih belum menemukan mitra legislatif yang sejalan dengan Vance.
Meski begitu, pemilihan Vance sebagai calon Wakil Presiden memiliki makna penting jika dibandingkan dengan Mike Pence pada 2016. Sementara Pence mewakili konservatif evangelis tradisional, Vance melambangkan nasionalisme ekonomi, keterlibatan dalam perang budaya, dan energi populis. Ini adalah pesan baru dari elit partai tentang arah kepemimpinan Trump yang akan datang.
Arah Baru Elit Konservatif—Makna di Balik Vance sebagai Wakil Presiden
Siapa pun tahu bagaimana akhir masa jabatan Mike Pence. Pada 6 Januari 2021, saat kerusuhan di Capitol, pendukung Trump menuntut hukuman mati bagi Pence, dan dia terpaksa melarikan diri dari gedung Kongres. Setelah peristiwa itu, banyak anggota pemerintahan Trump menyesal atas keputusan tersebut.
Namun, berbeda halnya dengan Vance. Dia adalah pendatang baru yang tidak mendukung Trump sebelum 6 Januari. Oleh karena itu, loyalitasnya saat ini kepada Trump melambangkan pergantian generasi dalam partai. Penunjukannya menunjukkan bahwa Trump ingin meninggalkan hubungan dengan kepemimpinan lama dan mencari pemimpin baru yang sepenuhnya setia kepadanya.
Apa arti dari munculnya Vance sebagai calon Wakil Presiden—apakah dia akan menjadi aset dalam kampanye Trump, atau justru beban karena ekstremitas dan keunikannya—masih belum pasti. Tetapi dalam pemilihan yang menonjolkan usia sebagai isu utama, Vance memberikan keuntungan kecil namun berharga bagi kampanye Trump. Ini adalah peluang untuk menunjukkan bahwa setelah era Trump, masih ada masa depan Trumpisme yang dapat dipercaya. Inilah makna sejati dari keberadaan Vance sebagai calon Wakil Presiden.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Mengapa sekarang Wakil Presiden Pence—Perubahan strategi elit konservatif Trump
Penunjukan calon Wakil Presiden Pence, bukan sekadar pergantian personel biasa, melambangkan perubahan mendasar dalam konservatisme Amerika Serikat. Dua jam setelah insiden percobaan penembakan di Pennsylvania pada Juli 2024, Senator Republik Ohio J.D. Vance mengeluarkan pernyataan di media sosial yang menyatakan bahwa retorika kampanye Biden secara langsung memicu kekerasan terhadap Trump. Beberapa hari kemudian, Trump menunjuk Vance sebagai calon Wakil Presiden. Di balik pilihan ini terdapat rekonstruksi dramatis struktur kekuasaan dalam Partai Republik selama delapan tahun terakhir.
Ujian Kesetiaan Partai Republik—Perubahan Cepat dalam Politik Vance
Bagi mereka yang mengetahui posisi Vance pada 2016, posisi saat ini adalah perubahan yang mencengangkan. Saat itu, dia berusia 39 tahun dan merupakan salah satu politikus yang paling cepat naik daun setelah Obama. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuannya yang langka mengubah pengalaman hidupnya menjadi narasi sosial yang meyakinkan. Dibesarkan oleh kakek-nenek di wilayah Appalachia Ohio, dengan ibu yang mengalami kecanduan alkohol, pernah bertugas di Irak, dan menempuh pendidikan di Ohio State University serta Yale Law School—latar belakang ini mewujudkan memoarnya yang berjudul “Song of the South” yang diterbitkan pada 2016.
Namun, pada waktu yang sama, Vance sangat kritis terhadap Trump. Selama kampanye 2016, dia mengirim pesan kepada mantan teman sekamarnya yang menyebut Trump sebagai “orang bodoh seperti Nixon, atau Hitler Amerika.” Rasa antipati ini tidak berubah bahkan saat dia berkarier sebagai venture capitalist di Silicon Valley dan saat film “Song of the South” yang didasarkan pada bukunya dibuat oleh Ron Howard pada 2020.
Ketika Vance mencalonkan diri untuk kursi Senat Ohio pada 2022, situasi politik telah berubah secara dramatis. Iklan kampanyenya yang awalnya menonjolkan perlawanan terhadap elit liberal, menyatakan, “Media menyebut saya rasis karena ingin membangun tembok Trump, tetapi itu tidak mengubah fakta.” Pesan ini bertentangan dengan kritiknya terhadap Trump beberapa tahun sebelumnya.
Pada saat itu, Vance mengakui bahwa dia tidak mendukung Trump sejak awal, tetapi dia mulai menyatakan bahwa miliarder tersebut “mengungkapkan korupsi yang tersembunyi di negara ini.” Pelembutan sikap ini tampaknya lebih mencerminkan perubahan mendasar dalam pandangannya daripada kalkulasi politik semata. Antara 2019 dan 2020, Vance menyatakan bahwa dia telah mengubah pandangannya tentang esensi liberalisme. Dia merasa bahwa intelektual liberal membaca Carl Schmitt dan mengikuti gagasan bahwa “tidak ada hukum, hanya kekuasaan.”
Dalam empat tahun berikutnya, Vance secara vokal mengecam tuduhan kekerasan seksual terhadap Trump dan menyatakan bahwa jika dia menjadi Wakil Presiden pada 6 Januari 2021, dia akan mengesahkan daftar “pemilih pengganti” yang diminta Trump dan “berjuang dari dalam” Kongres. Pernyataan ini menegaskan posisi Vance dalam Partai Republik dan sekaligus menunjukkan seberapa jauh dia telah berbalik mendukung Trump dalam lingkungan politik saat ini.
Dari Perwakilan Kelas Pekerja ke Wakil Presiden—Simbol Kebangkitan Populisme
Hal paling penting dari penunjukan Vance sebagai calon Wakil Presiden adalah pergantian generasi dalam konservatisme. Seperti senator lain dari generasinya, misalnya Tom Cotton dari Arkansas, Josh Hawley dari Missouri, dan Marco Rubio dari Florida, Vance menegaskan perlunya Partai Republik keluar dari prinsip pasar bebas era Reagan.
“Gerakan konservatif Partai Republik harus meninjau kembali doktrin ekonomi dari tahun 1980-an dan 1990-an agar dapat mempertahankan mayoritas yang berkelanjutan,” kata Vance dalam acara di American Rombard Institute pada 2023. Kata-kata ini bukan sekadar retorika, melainkan menunjukkan perubahan arah teoretis partai. Dia mendukung tarif dan mendorong anggota Partai Republik untuk bekerja sama dengan serikat pekerja.
Dalam wawancara Februari, Vance menyatakan, “Posisi politik nenek saya adalah gabungan antara sosial demokrasi sayap kiri dan peningkatan individu sayap kanan, dan kedua pandangan itu memiliki keunggulan.” Namun, seperti yang dikritik kolumnis Washington Post, kerja sama nyata dengan serikat pekerja saat ini masih sebatas kata-kata. Gerakan buruh arus utama masih belum menemukan mitra legislatif yang sejalan dengan Vance.
Meski begitu, pemilihan Vance sebagai calon Wakil Presiden memiliki makna penting jika dibandingkan dengan Mike Pence pada 2016. Sementara Pence mewakili konservatif evangelis tradisional, Vance melambangkan nasionalisme ekonomi, keterlibatan dalam perang budaya, dan energi populis. Ini adalah pesan baru dari elit partai tentang arah kepemimpinan Trump yang akan datang.
Arah Baru Elit Konservatif—Makna di Balik Vance sebagai Wakil Presiden
Siapa pun tahu bagaimana akhir masa jabatan Mike Pence. Pada 6 Januari 2021, saat kerusuhan di Capitol, pendukung Trump menuntut hukuman mati bagi Pence, dan dia terpaksa melarikan diri dari gedung Kongres. Setelah peristiwa itu, banyak anggota pemerintahan Trump menyesal atas keputusan tersebut.
Namun, berbeda halnya dengan Vance. Dia adalah pendatang baru yang tidak mendukung Trump sebelum 6 Januari. Oleh karena itu, loyalitasnya saat ini kepada Trump melambangkan pergantian generasi dalam partai. Penunjukannya menunjukkan bahwa Trump ingin meninggalkan hubungan dengan kepemimpinan lama dan mencari pemimpin baru yang sepenuhnya setia kepadanya.
Apa arti dari munculnya Vance sebagai calon Wakil Presiden—apakah dia akan menjadi aset dalam kampanye Trump, atau justru beban karena ekstremitas dan keunikannya—masih belum pasti. Tetapi dalam pemilihan yang menonjolkan usia sebagai isu utama, Vance memberikan keuntungan kecil namun berharga bagi kampanye Trump. Ini adalah peluang untuk menunjukkan bahwa setelah era Trump, masih ada masa depan Trumpisme yang dapat dipercaya. Inilah makna sejati dari keberadaan Vance sebagai calon Wakil Presiden.