Bank Sentral Thailand baru-baru ini meluncurkan serangkaian langkah untuk menghadapi tekanan apresiasi baht, di mana yang paling mencolok adalah peraturan baru terkait perdagangan emas. Masalah struktural yang dihadapi nilai tukar Thailand semakin jelas, dan kebijakan suku bunga rendah saja sudah tidak cukup untuk mengatasinya secara efektif. Gubernur bank sentral menyatakan bahwa untuk meredam tekanan pada nilai tukar Thailand dan mengelola tren apresiasi baht, bank sentral memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih terfokus.
Mengapa membatasi perdagangan emas? Tekanan nilai tukar di balik apresiasi baht
Belakangan ini, baht terus menguat terhadap dolar AS, dan salah satu pendorong utamanya adalah masuknya volume besar perdagangan emas. Ketika investor internasional membeli emas Thailand, mereka harus menukar dolar menjadi baht, yang secara langsung meningkatkan permintaan terhadap baht dan menyebabkan apresiasi terhadap dolar AS. Meskipun penguatan ini tampaknya menguntungkan pemilik baht, sebenarnya hal ini dapat melemahkan daya saing internasional produk Thailand dan memberi tekanan pada ekonomi yang bergantung pada ekspor. Oleh karena itu, mengendalikan volume perdagangan emas menjadi alat penting bagi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar Thailand.
Penjelasan regulasi baru: batas harian 50 juta baht dan larangan short selling
Untuk mencegah fluktuasi baht yang disebabkan oleh perdagangan emas yang berlebihan, bank sentral Thailand memutuskan menerapkan pengendalian perdagangan yang ketat. Regulasi baru membatasi volume perdagangan emas daring harian hingga 50 juta baht, yang berfungsi sebagai batas atas transaksi di pasar. Selain itu, bank sentral juga melarang praktik short selling dalam perdagangan emas, untuk mencegah spekulan memanfaatkan leverage guna memperbesar fluktuasi nilai tukar. Kedua langkah ini diharapkan dapat secara efektif meredam tekanan apresiasi baht.
Pendekatan multi-langkah dan pengawasan modal abu-abu menyusul
Pembatasan perdagangan emas hanyalah langkah awal dalam rencana bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar Thailand. Menurut pernyataan gubernur, lembaga ini sudah aktif mengelola nilai tukar baht dan akan meluncurkan langkah pengelolaan modal abu-abu yang baru bulan depan. Modal abu-abu merujuk pada aliran dana yang melewati jalur keuangan resmi, yang sering kali sangat fluktuatif dan sulit dilacak, sehingga dapat memperburuk volatilitas nilai tukar. Melalui kerangka pengawasan baru ini, bank sentral berharap dapat lebih mengatur arus modal dan melindungi stabilitas nilai tukar Thailand.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bank Sentral Thailand Mengambil Langkah Menstabilkan Nilai Tukar Thailand, Membatasi Skala Perdagangan Emas sebagai Strategi Baru
Bank Sentral Thailand baru-baru ini meluncurkan serangkaian langkah untuk menghadapi tekanan apresiasi baht, di mana yang paling mencolok adalah peraturan baru terkait perdagangan emas. Masalah struktural yang dihadapi nilai tukar Thailand semakin jelas, dan kebijakan suku bunga rendah saja sudah tidak cukup untuk mengatasinya secara efektif. Gubernur bank sentral menyatakan bahwa untuk meredam tekanan pada nilai tukar Thailand dan mengelola tren apresiasi baht, bank sentral memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih terfokus.
Mengapa membatasi perdagangan emas? Tekanan nilai tukar di balik apresiasi baht
Belakangan ini, baht terus menguat terhadap dolar AS, dan salah satu pendorong utamanya adalah masuknya volume besar perdagangan emas. Ketika investor internasional membeli emas Thailand, mereka harus menukar dolar menjadi baht, yang secara langsung meningkatkan permintaan terhadap baht dan menyebabkan apresiasi terhadap dolar AS. Meskipun penguatan ini tampaknya menguntungkan pemilik baht, sebenarnya hal ini dapat melemahkan daya saing internasional produk Thailand dan memberi tekanan pada ekonomi yang bergantung pada ekspor. Oleh karena itu, mengendalikan volume perdagangan emas menjadi alat penting bagi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar Thailand.
Penjelasan regulasi baru: batas harian 50 juta baht dan larangan short selling
Untuk mencegah fluktuasi baht yang disebabkan oleh perdagangan emas yang berlebihan, bank sentral Thailand memutuskan menerapkan pengendalian perdagangan yang ketat. Regulasi baru membatasi volume perdagangan emas daring harian hingga 50 juta baht, yang berfungsi sebagai batas atas transaksi di pasar. Selain itu, bank sentral juga melarang praktik short selling dalam perdagangan emas, untuk mencegah spekulan memanfaatkan leverage guna memperbesar fluktuasi nilai tukar. Kedua langkah ini diharapkan dapat secara efektif meredam tekanan apresiasi baht.
Pendekatan multi-langkah dan pengawasan modal abu-abu menyusul
Pembatasan perdagangan emas hanyalah langkah awal dalam rencana bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar Thailand. Menurut pernyataan gubernur, lembaga ini sudah aktif mengelola nilai tukar baht dan akan meluncurkan langkah pengelolaan modal abu-abu yang baru bulan depan. Modal abu-abu merujuk pada aliran dana yang melewati jalur keuangan resmi, yang sering kali sangat fluktuatif dan sulit dilacak, sehingga dapat memperburuk volatilitas nilai tukar. Melalui kerangka pengawasan baru ini, bank sentral berharap dapat lebih mengatur arus modal dan melindungi stabilitas nilai tukar Thailand.