Produsen timah Indonesia dan Global: Menavigasi Perubahan Pasar dan Tantangan Pasokan di 2024

Pasar timah global menghadapi tantangan besar pada tahun 2023, dengan produksi timah dunia menurun sebesar 2,1 persen dari tahun ke tahun menjadi 370.100 metrik ton. Penurunan ini terjadi di tengah lingkungan makroekonomi yang menantang yang menekan permintaan di sektor-sektor penggunaan akhir utama. China memperkuat posisinya sebagai produsen timah terbesar di dunia dengan hasil tambang sebesar 68.000 metrik ton, sementara Myanmar memastikan posisi kedua dengan 54.000 metrik ton. Namun, perkembangan paling signifikan adalah munculnya kendala pasokan yang secara fundamental mengubah dinamika pasar menjelang 2024, menciptakan peluang dan tantangan bagi produsen timah yang sudah mapan maupun yang baru berkembang secara global.

Asosiasi Timah Internasional melaporkan surplus pasar yang signifikan sebesar 9.700 ton pada tahun 2023, hasil langsung dari penurunan produksi yang disertai kondisi permintaan yang lemah. Namun, meskipun ketidakpastian makroekonomi terus berlanjut, para analis memperkirakan pemulihan permintaan yang substansial disertai gangguan pasokan yang berkelanjutan—terutama di Negara Bagian Wa Myanmar dan seluruh Indonesia—yang kemungkinan akan menciptakan kondisi pasokan yang lebih ketat sepanjang 2024. Prediksi ini terbukti tepat; pada pertengahan 2024, harga timah telah naik ke level yang belum terlihat dalam hampir dua tahun, dengan pengamat pasar mengaitkan lonjakan ini secara tepat pada faktor-faktor tersebut. Analis Fastmarkets mencatat bahwa ketidakpastian pasokan global yang berasal dari Myanmar, dikombinasikan dengan membaiknya fundamental makroekonomi dan angin musim positif, menempatkan manajer dana untuk meningkatkan posisi net long mereka di pasar futures timah.

Dominasi Tak Tergoyahkan China: Dinasti Timah Yunnan

Ketika meninjau produsen timah terbesar di dunia, satu perusahaan menonjol: Yunnan Tin Company (SZSE:000960), sebuah perusahaan milik negara yang menghasilkan 80.100 metrik ton timah olahan pada tahun 2023—pimpinannya yang kokoh mencerminkan pertumbuhan 4 persen dari tahun ke tahun. Berbasis di Provinsi Yunnan, China, dan menelusuri warisan operasinya kembali ke tahun 1883, perusahaan ini tidak hanya beroperasi sebagai pengolah timah utama dunia tetapi juga sebagai pusat riset dan pengembangan logam mulia terbesar di China. Kombinasi skala produksi dan kemampuan teknis ini telah mengukuhkan peran Yunnan Tin sebagai poros utama pasokan timah global.

Ekosistem produsen timah China jauh melampaui Yunnan. Yunnan Chengfeng Non-ferrous Metals, didirikan pada tahun 1994, telah muncul sebagai produsen timah olahan terbesar kedua di negara tersebut, menghasilkan 21.800 metrik ton pada tahun 2023—peningkatan 5,8 persen yang memperkuat posisinya sebagai produsen timah terbesar ketiga di dunia. Portofolio produk perusahaan ini tidak hanya mencakup timah tetapi juga indium, perak, emas, timbal, bismut, dan antimon, mencerminkan sifat terintegrasi dari operasi pengolahan timah modern. Demikian pula, Guangxi China Tin, didirikan pada tahun 1990 dan menempati posisi ketiga sebagai produsen timah terbesar di China, memproduksi 12.000 metrik ton pada tahun 2023, naik 10,1 persen dari tahun sebelumnya. Bersama-sama, ketiga perusahaan China ini mengendalikan sekitar sepertiga pasokan timah olahan secara global.

Produsen Timah Indonesia dan Tantangan Produksi Berkelanjutan

Indonesia menempati posisi penting namun semakin rapuh dalam rantai pasok timah global, sebuah kenyataan yang dicontohkan oleh perjalanan PT Timah (IDX:TINS), produsen timah unggulan milik negara. Didirikan pada tahun 1976 dan berkantor pusat di Provinsi Bangka-Belitung, PT Timah secara historis termasuk dalam daftar perusahaan timah terbesar di dunia. Namun, kinerja perusahaan pada tahun 2023 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan: produksi timah olahan turun 22,7 persen dari tahun ke tahun menjadi 15.300 metrik ton, menempatkan perusahaan di posisi kelima secara global dan melanjutkan tren penurunan yang mengkhawatirkan sejak 2021.

Penyebab penurunan output PT Timah mencerminkan hambatan struktural dan siklikal yang lebih luas di industri timah Indonesia. Produksi perusahaan ini mencapai puncaknya di 26.500 metrik ton pada tahun 2021, yang sebagian dicapai melalui dinamika pasar sementara yang menyebabkan smelter swasta berhenti beroperasi secara independen dan menyewa kapasitas produksi kepada PT Timah—secara efektif memungkinkan perusahaan negara ini menggandakan outputnya tahun itu. Ketika smelter swasta ini mengakhiri kontrak mereka pada tahun 2020, baseline produksi PT Timah menyusut sesuai. Baru-baru ini, perusahaan menghadapi komplikasi yang meningkat akibat penyelidikan korupsi yang sedang berlangsung terkait operasi perdagangan komoditas, menciptakan tekanan operasional dan reputasi tambahan yang menghambat upaya ekspansi produksi.

Tantangan ini menegaskan kerentanan yang lebih luas dalam sektor produsen timah Indonesia dan menyoroti mengapa gangguan pasokan yang berasal dari negara ini tetap menjadi variabel penting dalam peramalan pasar timah global. Sementara produsen China beroperasi dalam kerangka yang stabil dan didukung negara, dan pesaing asing memperkuat posisi operasional mereka, produsen timah terbesar Indonesia menghadapi hambatan kelembagaan yang membatasi kemampuannya memanfaatkan kondisi pasar yang menguntungkan.

Dunia Lain: Produksi Diversifikasi, Nasib Campuran

Di luar China dan Indonesia, jaringan pasokan timah dunia mencakup produsen yang tersebar di berbagai benua, masing-masing menghadapi tekanan kompetitif dan operasional yang berbeda. Minsur, perusahaan swasta berbasis di Peru yang berakar sejak awal abad ke-20, menempati posisi kedua secara global dengan produksi timah olahan sebanyak 31.700 metrik ton pada tahun 2023. Angka ini menurun 3,1 persen dari tahun sebelumnya, termasuk hasil dari anak perusahaan Brazil, Taboca. Mahkota Minsur, tambang San Rafael di Amerika Selatan, beroperasi sebagai fasilitas produksi timah terbesar di benua itu dan sendiri menghasilkan sekitar 12 persen dari pasokan timah olahan dunia. Perusahaan ini juga mengendalikan kapasitas peleburan dan pengolahan terintegrasi, menjadikan Minsur produsen timah yang sepenuhnya terintegrasi dari penambangan hingga pengolahan produk akhir.

Malaysia Smelting (KLSE:MSC), anak perusahaan dari Straits Trading Company Singapura dan beroperasi sejak 1887, memproduksi 20.700 metrik ton pada tahun 2023, meningkat 10,1 persen dan menggeser PT Timah dari peringkat sebelumnya. Perusahaan ini memposisikan diri sebagai pemimpin dalam peleburan timah kustom, memanfaatkan pengalaman operasional lebih dari satu abad. Empresa Metalúrgica Vinto milik negara Bolivia memproses 10.000 metrik ton pada tahun 2023 meskipun menghadapi tantangan mulai dari kerusuhan sosial-politik di Peru yang berdekatan—yang mengganggu pengiriman batu bara penting ke fasilitas peleburan—hingga tekanan utang yang meningkat yang membatasi investasi modal dan ekspansi produksi.

Produsen kecil namun strategis penting melengkapi lanskap global ini. Aurubis Beerse dari Belgia, dengan produksi 9.300 metrik ton pada tahun 2023 dan pertumbuhan 13,4 persen, mengoperasikan fasilitas daur ulang dan pengolahan khusus yang memproses bahan baku sekunder untuk produksi tembaga, timah, timbal, dan nikel. Perusahaan ini menempatkan diri sebagai produsen timah terbesar di Eropa dan sangat mendukung prinsip operasional tanpa limbah. Thaisarco (Thailand Smelting and Refining), yang beroperasi sejak 1963, memproduksi 9.200 metrik ton pada tahun 2023, turun 3,2 persen dari tahun sebelumnya. Di bawah manajemen dari Amalgamated Metal Inggris sejak 1995, Thaisarco baru-baru ini memperpanjang perjanjian pengambilan selama tiga tahun dengan Andrada Mining dari Namibia, memastikan pasokan minimal 90 metrik ton per bulan dari tambang Uis.

Paradoks Konsolidasi: Struktur Pasar dalam Lingkungan Pasokan yang Ketat

Sepuluh produsen timah olahan terbesar bersama-sama menyumbang sekitar 59 persen dari pasokan timah olahan global, sebuah angka konsentrasi yang menyoroti baik skala ekonomi yang diperlukan untuk produksi timah yang kompetitif maupun semakin pentingnya gangguan pasokan di lokasi produsen utama. Struktur pasar ini menciptakan dinamika menarik: sementara dominasi China memberikan stabilitas melalui skala, kerentanan yang meningkat dari produsen sekunder—terutama Indonesia—memperkuat sensitivitas terhadap guncangan geopolitik dan operasional.

Kekurangan pasokan yang diperkirakan akan terjadi pada 2024 memang telah terwujud, mengubah kelangkaan teknis menjadi apresiasi harga yang menguntungkan produsen efisien sekaligus menekan operasi marginal. Ke depan, produsen timah Indonesia, investasi berkelanjutan dari produsen China, dan operasi mapan di Amerika Latin akan secara kolektif menentukan apakah pasokan dapat menyeimbangkan permintaan, atau apakah kendala pasokan lebih lanjut akan mendorong harga ke tingkat yang mendorong substitusi dalam aplikasi penggunaan akhir utama. Bagi investor yang mengikuti sektor ini, memantau data produksi kuartalan dari produsen timah terbesar ini memberikan indikator yang andal tentang fundamental pasar dan ketidakseimbangan pasokan-permintaan yang sedang berkembang.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)