Komunitas perbankan investasi menggambarkan gambaran optimis untuk ekuitas AS di tahun mendatang. Lembaga keuangan utama telah mengungkapkan perkiraan pasar mereka untuk tahun 2026, menunjukkan konsensus luas bahwa momentum pasar bullish tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Seiring kecerdasan buatan terus mendorong transformasi ekonomi, para strategis di Wall Street bersaing untuk menetapkan target yang semakin optimis untuk Indeks S&P 500.
Konsensus Mulai Terbentuk: Teori Pasar Bull
Perkiraan pasar dari seluruh industri dari bank-bank papan atas menunjukkan ada potensi kenaikan yang cukup besar ke depan. Skenario dasar mencakup beberapa proyeksi: Indeks S&P 500 diperkirakan akan mencapai setidaknya 7.500 poin pada akhir tahun 2026, dengan beberapa lembaga mendorong target secara signifikan lebih tinggi. Konsensus ini mencerminkan kepercayaan bahwa reli saat ini bukan sekadar rebound siklikal tetapi awal dari kenaikan yang berkelanjutan.
Kasus dasar JPMorgan mencerminkan pandangan ini, memperkirakan indeks akan menetap di 7.500 poin pada 2026. Namun, bank ini menyarankan ada ruang untuk kenaikan yang lebih besar—jika inflasi mereda lebih dari yang diperkirakan dan memicu pemotongan suku bunga Federal Reserve yang lebih agresif, melewati 8.000 poin menjadi kemungkinan dalam skenario bull case mereka.
Prediksi Institusi Individu: Hierarki Optimisme
Perkiraan pasar spesifik dari pemain utama Wall Street menunjukkan tingkat kepercayaan yang bervariasi. Deutsche Bank telah menempatkan posisi paling agresif, menetapkan target 8.000 poin untuk S&P 500 pada akhir 2026. Strategis Morgan Stanley, Mike Wilson, menggambarkan tahun depan sebagai potensi “pasar bull baru,” dengan bank memproyeksikan kekuatan indeks yang akan menutup tahun di 7.800 poin. HSBC telah menyesuaikan perkiraan pasar mereka pada level yang lebih modest, yaitu 7.500 poin, dengan posisi sesuai dengan baseline konsensus.
Kasus Fundamental: Mengapa Bulls Tetap Yakin
Perkiraan pasar yang optimis ini didasarkan pada beberapa pilar. Tim riset Morgan Stanley berpendapat bahwa resesi bergulir yang mendominasi kekhawatiran awal tahun 2025 telah selesai. Ke depan, dukungan kebijakan dan kekuatan laba perusahaan diperkirakan akan tetap konstruktif hingga 2026, memberikan dorongan laba yang diperlukan untuk mendorong rasio harga saham lebih tinggi.
JPMorgan menambahkan dimensi lain ke dalam kasus bull: bank ini saat ini memperkirakan Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga lagi sebelum menghentikan siklus pelonggaran. Pengurangan moderat dalam biaya pinjaman ini harus mempertahankan momentum ekonomi tanpa memicu inflasi berlebih yang dapat mengganggu kenaikan ekuitas.
Faktor Risiko dalam Perkiraan
Meskipun perkiraan pasar ini condong ke arah bullish, lembaga-lembaga mengakui faktor kondisional. JPMorgan secara eksplisit menyebutkan bahwa skenario bull 8.000 poin bergantung pada inflasi yang membaik lebih cepat dari perkiraan dasar. Sebaliknya, jika inflasi tetap menempel atau mempercepat lagi, target kenaikan bisa terlalu optimis.
Konsistensi perkiraan pasar dari lembaga-lembaga yang bersaing—dengan rentang target dari 7.500 hingga 8.000 poin—menunjukkan bahwa Wall Street telah mencapai keyakinan nyata terhadap apresiasi ekuitas yang berkelanjutan. Selama produktivitas yang didorong AI dan stabilitas laba tetap terjaga, narasi pasar bullish yang tertanam dalam perkiraan ini tampak kredibel untuk tahun 2026.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Perkiraan Pasar Wall Street 2026 Mengarah ke Pasar Bull yang Berkelanjutan: S&P 500 Siap Mencapai Level Tertinggi Baru
Komunitas perbankan investasi menggambarkan gambaran optimis untuk ekuitas AS di tahun mendatang. Lembaga keuangan utama telah mengungkapkan perkiraan pasar mereka untuk tahun 2026, menunjukkan konsensus luas bahwa momentum pasar bullish tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Seiring kecerdasan buatan terus mendorong transformasi ekonomi, para strategis di Wall Street bersaing untuk menetapkan target yang semakin optimis untuk Indeks S&P 500.
Konsensus Mulai Terbentuk: Teori Pasar Bull
Perkiraan pasar dari seluruh industri dari bank-bank papan atas menunjukkan ada potensi kenaikan yang cukup besar ke depan. Skenario dasar mencakup beberapa proyeksi: Indeks S&P 500 diperkirakan akan mencapai setidaknya 7.500 poin pada akhir tahun 2026, dengan beberapa lembaga mendorong target secara signifikan lebih tinggi. Konsensus ini mencerminkan kepercayaan bahwa reli saat ini bukan sekadar rebound siklikal tetapi awal dari kenaikan yang berkelanjutan.
Kasus dasar JPMorgan mencerminkan pandangan ini, memperkirakan indeks akan menetap di 7.500 poin pada 2026. Namun, bank ini menyarankan ada ruang untuk kenaikan yang lebih besar—jika inflasi mereda lebih dari yang diperkirakan dan memicu pemotongan suku bunga Federal Reserve yang lebih agresif, melewati 8.000 poin menjadi kemungkinan dalam skenario bull case mereka.
Prediksi Institusi Individu: Hierarki Optimisme
Perkiraan pasar spesifik dari pemain utama Wall Street menunjukkan tingkat kepercayaan yang bervariasi. Deutsche Bank telah menempatkan posisi paling agresif, menetapkan target 8.000 poin untuk S&P 500 pada akhir 2026. Strategis Morgan Stanley, Mike Wilson, menggambarkan tahun depan sebagai potensi “pasar bull baru,” dengan bank memproyeksikan kekuatan indeks yang akan menutup tahun di 7.800 poin. HSBC telah menyesuaikan perkiraan pasar mereka pada level yang lebih modest, yaitu 7.500 poin, dengan posisi sesuai dengan baseline konsensus.
Kasus Fundamental: Mengapa Bulls Tetap Yakin
Perkiraan pasar yang optimis ini didasarkan pada beberapa pilar. Tim riset Morgan Stanley berpendapat bahwa resesi bergulir yang mendominasi kekhawatiran awal tahun 2025 telah selesai. Ke depan, dukungan kebijakan dan kekuatan laba perusahaan diperkirakan akan tetap konstruktif hingga 2026, memberikan dorongan laba yang diperlukan untuk mendorong rasio harga saham lebih tinggi.
JPMorgan menambahkan dimensi lain ke dalam kasus bull: bank ini saat ini memperkirakan Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga lagi sebelum menghentikan siklus pelonggaran. Pengurangan moderat dalam biaya pinjaman ini harus mempertahankan momentum ekonomi tanpa memicu inflasi berlebih yang dapat mengganggu kenaikan ekuitas.
Faktor Risiko dalam Perkiraan
Meskipun perkiraan pasar ini condong ke arah bullish, lembaga-lembaga mengakui faktor kondisional. JPMorgan secara eksplisit menyebutkan bahwa skenario bull 8.000 poin bergantung pada inflasi yang membaik lebih cepat dari perkiraan dasar. Sebaliknya, jika inflasi tetap menempel atau mempercepat lagi, target kenaikan bisa terlalu optimis.
Konsistensi perkiraan pasar dari lembaga-lembaga yang bersaing—dengan rentang target dari 7.500 hingga 8.000 poin—menunjukkan bahwa Wall Street telah mencapai keyakinan nyata terhadap apresiasi ekuitas yang berkelanjutan. Selama produktivitas yang didorong AI dan stabilitas laba tetap terjaga, narasi pasar bullish yang tertanam dalam perkiraan ini tampak kredibel untuk tahun 2026.