Globalisasi keuangan sedang secara diam-diam membentuk ulang peta dunia. Siklus besar pelonggaran-pengetatan yang seragam pasca pandemi pada dasarnya telah berakhir, dan saat ini bank sentral di berbagai negara menghadapi jalan yang berbeda-beda—ada yang menurunkan suku bunga, ada yang menaikkannya, dan ada yang tetap di tempat, tidak lagi kembali ke ritme yang seragam.
Sumber utama dari perpecahan ini, pasar memberi nama "Variabel Trump". Setelah kembali ke Gedung Putih pada awal 2025, kombinasi kebijakan pemimpin Amerika ini sedang menciptakan gelombang di pasar keuangan global. Ancaman tarif yang agresif, ketidakpastian dalam pola perdagangan, ditambah tekanan yang sering terhadap Federal Reserve dan keraguan terbuka terhadap independensi kebijakan, membuat "apa yang akan dilakukan Amerika Serikat selanjutnya" menjadi pedang Damokles yang menggantung di atas kepala bank sentral global.
Masalahnya adalah, bank sentral di berbagai negara sekarang terjepit di tengah. Di satu sisi harus menjaga inflasi dan pertumbuhan domestik tetap stabil, di sisi lain harus selalu memperhatikan nilai tukar mata uang dan arus dana lintas batas—keduanya kini menjadi zona risiko yang sangat sensitif. Beberapa tahun terakhir, mengikuti irama Federal Reserve dapat mengurangi guncangan eksternal, tetapi ketika kebijakan AS sendiri menjadi faktor ketidakpastian terbesar, melanjutkan langkah yang sama justru bisa memperburuk keadaan. Bank-bank sentral mulai menyadari bahwa "sinkronisasi" tidak lagi menjadi jalan aman, melainkan justru memperbesar risiko.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Globalisasi keuangan sedang secara diam-diam membentuk ulang peta dunia. Siklus besar pelonggaran-pengetatan yang seragam pasca pandemi pada dasarnya telah berakhir, dan saat ini bank sentral di berbagai negara menghadapi jalan yang berbeda-beda—ada yang menurunkan suku bunga, ada yang menaikkannya, dan ada yang tetap di tempat, tidak lagi kembali ke ritme yang seragam.
Sumber utama dari perpecahan ini, pasar memberi nama "Variabel Trump". Setelah kembali ke Gedung Putih pada awal 2025, kombinasi kebijakan pemimpin Amerika ini sedang menciptakan gelombang di pasar keuangan global. Ancaman tarif yang agresif, ketidakpastian dalam pola perdagangan, ditambah tekanan yang sering terhadap Federal Reserve dan keraguan terbuka terhadap independensi kebijakan, membuat "apa yang akan dilakukan Amerika Serikat selanjutnya" menjadi pedang Damokles yang menggantung di atas kepala bank sentral global.
Masalahnya adalah, bank sentral di berbagai negara sekarang terjepit di tengah. Di satu sisi harus menjaga inflasi dan pertumbuhan domestik tetap stabil, di sisi lain harus selalu memperhatikan nilai tukar mata uang dan arus dana lintas batas—keduanya kini menjadi zona risiko yang sangat sensitif. Beberapa tahun terakhir, mengikuti irama Federal Reserve dapat mengurangi guncangan eksternal, tetapi ketika kebijakan AS sendiri menjadi faktor ketidakpastian terbesar, melanjutkan langkah yang sama justru bisa memperburuk keadaan. Bank-bank sentral mulai menyadari bahwa "sinkronisasi" tidak lagi menjadi jalan aman, melainkan justru memperbesar risiko.