Washington telah secara terbuka menyarankan London untuk tidak mengejar apa yang mereka gambarkan sebagai pembatasan 'gaya Rusia' pada platform Musk's X, menandakan meningkatnya ketegangan antara pemerintah sekutu terkait regulasi digital. Peringatan ini muncul di tengah perdebatan yang semakin intens tentang konten deepfake yang beredar di media sosial dan bagaimana otoritas harus merespons.
Posisi AS mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam tentang sensor tingkat negara terhadap platform sosial—sebuah praktik yang sering dikaitkan dengan rezim otoriter. Sementara itu, laporan menunjukkan bahwa gambar deepfake telah memicu diskusi kebijakan mendesak di Inggris, menimbulkan pertanyaan tentang batas antara moderasi konten yang sah dan overreach.
Dinamik ini menimbulkan pertanyaan penting bagi komunitas Web3: Bagaimana platform terdesentralisasi harus mendekati tata kelola saat menghadapi tekanan regulasi? Bisakah kebijakan konten sukarela berdampingan dengan tuntutan pemerintah? Saga X menegaskan mengapa banyak orang melihat alternatif terdesentralisasi sebagai hal yang penting—mengurangi kekuasaan entitas tunggal untuk mengendalikan aliran informasi.
Benturan antara otonomi platform, otoritas pemerintah, dan hak pengguna kemungkinan akan mendefinisikan kebijakan digital selama bertahun-tahun ke depan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
12 Suka
Hadiah
12
7
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
GateUser-1a2ed0b9
· 01-12 20:32
Kembali lagi dengan pola lama, Amerika bilang tidak boleh diatur, Inggris ingin mengatur deepfake... sungguh lucu, sebenarnya siapa yang berhak memutuskan
Lihat AsliBalas0
metaverse_hermit
· 01-12 09:41
Mulai lagi... Amerika takut Inggris mengatur X, Inggris juga takut deepfake, sebenarnya siapa yang harus mengatur siapa sih
Lihat AsliBalas0
BearMarketBarber
· 01-12 09:41
Kembali lagi, di sana Amerika bilang Inggris "belajar dari Rusia"? Ehh... argumen ini benar-benar sarkastik, mereka sendiri yang paling keras mengendalikan kebebasan berpendapat
Banyak deepfake, pemerintah juga tidak punya solusi... harus mengandalkan desentralisasi untuk menyelamatkan keadaan
Inilah sebabnya mengapa Web3 harus maju, bro
Lihat AsliBalas0
BTCBeliefStation
· 01-12 09:30
呃...Amerika dan Inggris saling beradu untuk mengendalikan X, ngomong apa "pembatasan gaya Rusia", benar-benar nggak tahan lagi haha
Tunggu dulu, ini nggak justru menunjukkan kenapa Web3 harus dilakukan? Satu platform sering ditekan pemerintah, lebih baik menggunakan otonomi terdistribusi agar lebih menyenangkan
Deepfake memang menjijikkan, tapi begitu pemerintah turun tangan... hmm saya masih nggak terlalu percaya motif mereka
Bagaimanapun juga, platform terpusat pasti akan mati suatu saat, harus ada solusi di mana nobody bisa menentukan sendiri
Lihat AsliBalas0
Ramen_Until_Rich
· 01-12 09:17
Kembali lagi dengan pola ini? Amerika bilang Inggris "gaya Rusia", larangan TikTok mereka sendiri juga sama logikanya... double standard benar-benar luar biasa
Lihat AsliBalas0
StakeOrRegret
· 01-12 09:15
Itu lagi-lagi drama usang tentang "kebebasan berbicara" vs "peninjauan konten"... Singkatnya, AS dan Inggris tetap menjalankan kebijakan masing-masing, keduanya ingin mengendalikan hak bicara
Washington telah secara terbuka menyarankan London untuk tidak mengejar apa yang mereka gambarkan sebagai pembatasan 'gaya Rusia' pada platform Musk's X, menandakan meningkatnya ketegangan antara pemerintah sekutu terkait regulasi digital. Peringatan ini muncul di tengah perdebatan yang semakin intens tentang konten deepfake yang beredar di media sosial dan bagaimana otoritas harus merespons.
Posisi AS mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam tentang sensor tingkat negara terhadap platform sosial—sebuah praktik yang sering dikaitkan dengan rezim otoriter. Sementara itu, laporan menunjukkan bahwa gambar deepfake telah memicu diskusi kebijakan mendesak di Inggris, menimbulkan pertanyaan tentang batas antara moderasi konten yang sah dan overreach.
Dinamik ini menimbulkan pertanyaan penting bagi komunitas Web3: Bagaimana platform terdesentralisasi harus mendekati tata kelola saat menghadapi tekanan regulasi? Bisakah kebijakan konten sukarela berdampingan dengan tuntutan pemerintah? Saga X menegaskan mengapa banyak orang melihat alternatif terdesentralisasi sebagai hal yang penting—mengurangi kekuasaan entitas tunggal untuk mengendalikan aliran informasi.
Benturan antara otonomi platform, otoritas pemerintah, dan hak pengguna kemungkinan akan mendefinisikan kebijakan digital selama bertahun-tahun ke depan.