Mengapa Yen Jepang terus melemah? Pertanyaan ini mengganggu banyak orang yang ingin masuk ke pasar investasi Yen. Dari posisi tertinggi 157 di awal tahun, terus menurun ke lebih dari 140, lalu rebound ke sekitar 156 saat ini, fluktuasi Yen membuat orang agak bingung. Tapi jika melihat data dan langkah bank sentral secara cermat, sebenarnya logikanya cukup jelas.
Dari Sejarah Mengapa Yen Terus Terdepresiasi
Untuk memahami kondisi saat ini, kita perlu melihat ke belakang. Sejarah depresiasi Yen sebenarnya adalah evolusi kebijakan bank sentral.
Gempa besar Jepang tahun 2011 adalah titik balik. Bencana nuklir memicu krisis energi, Jepang mulai membeli dolar dalam jumlah besar untuk membeli minyak, sementara ekspor pariwisata dan produk pertanian terganggu, pendapatan devisa turun drastis. Bencana ini langsung memukul Yen.
Tahun 2013 adalah titik balik sebenarnya. Gubernur bank sentral baru, Haruhiko Kuroda, meluncurkan QE besar-besaran yang belum pernah dilakukan sebelumnya, berjanji akan menyuntikkan likuiditas setara 1,4 triliun dolar dalam dua tahun ke pasar. Hasilnya? Pasar saham naik, tapi Yen melemah hampir 30% dalam dua tahun. Ini memberi pelajaran mendalam: kebijakan pelonggaran adalah musuh utama Yen.
Tahun 2021 adalah momen penting lainnya. Federal Reserve mulai mengetatkan kebijakan, sementara Bank Jepang masih tidur. Saat ini, arus arbitrase mulai marak—investor meminjam Yen dengan suku bunga sangat rendah, lalu menginvestasikan ke aset dolar berimbal tinggi. Semakin baik ekonomi global, semakin besar tekanan Yen untuk melemah, karena tidak ada yang mau memegang mata uang tanpa imbal hasil.
Apa yang Terjadi Sekarang? Mengapa Yen Masih Melemah
Pada tahun 2025, Bank Jepang akhirnya bergerak. Januari menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 0,5%, Desember naik lagi 25 basis poin ke 0,75%—ini level tertinggi sejak 1995. Terlihat agresif, tapi apa reaksi pasar? Yen tetap melemah. Ini tampak kontradiktif, tapi sebenarnya mencerminkan kenyataan: selisih suku bunga AS-Jepang masih sangat besar.
Suku bunga AS masih di kisaran 3,25%-3,5%, sedangkan Jepang hanya 0,75%. Selisih ini cukup besar untuk membuat investor rasional terus meminjam Yen dan berinvestasi di dolar. Ditambah lagi, Bank Jepang sendiri mengakui bahwa suku bunga riil masih di zona negatif, artinya secara praktis Bank Jepang masih melakukan pelonggaran secara tidak langsung.
Tekanan lain datang dari keuangan pemerintah. Perdana Menteri baru, Sanae Takaichi, meluncurkan paket stimulus besar, penerbitan obligasi pemerintah meningkat, risiko defisit anggaran meningkat. Pasar khawatir akan meningkatnya premi kredit Jepang, yang lagi-lagi menekan Yen.
Ditambah lagi, perekonomian Jepang sendiri yang lemah. Konsumsi domestik tidak menunjukkan pertumbuhan yang kuat, GDP kadang bahkan negatif, daya beli riil tertekan. Bank sentral dalam kondisi ini memiliki ruang kenaikan suku bunga yang terbatas—siapa yang mau mempercepat kenaikan suku bunga dan memicu resesi?
Sebaliknya, perekonomian AS relatif stabil. Meskipun inflasi sudah mulai menurun dari level tinggi, tetap ada kekakuan. Pemerintah Trump meluncurkan kebijakan dolar kuat dan tarif, yang mendukung indeks dolar. Akibatnya, USD/JPY dari lebih dari 140 di April naik ke sekitar 155-157 saat ini.
Bagaimana Pandangan Institusi terhadap Tren Yen 2026
Wall Street saat ini cukup pesimis terhadap Yen. Ada dua prediksi utama:
Suara paling pesimis berasal dari JPMorgan. Kepala strategi valas Jepang, Junya Tanase, memperkirakan Yen bisa turun ke 164 pada akhir 2026. Alasannya sederhana: fundamental Yen sangat lemah, tahun depan sulit ada perbaikan mendasar. Bahkan jika Bank Jepang terus menaikkan suku bunga, dengan suku bunga di ekonomi lain yang juga naik, keunggulan relatif ini akan terkikis.
Prediksi yang kurang pesimis datang dari BNP Paribas di Paris. Strategi valas Asia mereka, Parisha Saimbi, memperkirakan Yen akan turun ke 160 pada akhir 2026. Logikanya, tahun depan kondisi makro global masih relatif mendukung aset risiko, yang menguntungkan arbitrase. Dengan mempertimbangkan keberlanjutan arbitrase, sikap hati-hati Bank Jepang, dan kemungkinan Federal Reserve lebih hawkish dari perkiraan, pasangan USD/JPY akan tetap di kisaran tinggi.
Kedua institusi ini sepakat: Yen dalam jangka pendek sulit mengalami pembalikan.
Apa yang Bisa Mengubah Nasib Yen
Untuk menilai masa depan Yen, Anda perlu memperhatikan beberapa variabel berikut:
Pertama adalah langkah selanjutnya Bank Jepang. Rapat 22-23 Januari sangat penting. Jika Ueda dan Kuroda memberi sinyal hawkish yang jelas, misalnya menunjukkan jalur kenaikan suku bunga yang pasti, ini akan membantu menguatkan Yen. Sebaliknya, jika mereka menekankan risiko perlambatan ekonomi, Yen mungkin tetap melemah.
Kedua adalah kecepatan penyempurnaan selisih suku bunga AS-Jepang. Jika Federal Reserve mempercepat penurunan suku bunga karena perlambatan ekonomi, dan selisih suku bunga cepat menyempit, ini akan menguntungkan Yen. Tapi ekspektasi utama adalah Fed akan berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, bahkan mungkin lebih hawkish dari perkiraan, sehingga dolar tetap kuat.
Ketiga adalah sentimen risiko global. Yen selalu dijual saat risiko tinggi karena investor meminjam Yen untuk mencari imbal hasil tinggi. Jika pasar saham mengalami koreksi, dan arus arbitrase tutup posisi, Yen akan menguat kembali. Jadi, perhatikan volatilitas pasar saham AS dan arah kebijakan tarif, karena ini penting untuk prediksi tren Yen.
Keempat adalah data inflasi dan ekonomi. Jika CPI, PMI, dan GDP Jepang menunjukkan kekuatan, ini memberi ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Jika data melemah, bank sentral akan kembali ke pelonggaran, dan Yen akan terus melemah.
Berapa Lama Yen Akan Terus Melemah
Sejujurnya, dari sudut pandang ini, Yen kemungkinan besar tidak akan menunjukkan perbaikan signifikan hingga semester pertama 2026. Selisih suku bunga AS-Jepang, arbitrase, dan sentimen risiko global semuanya tidak mudah berbalik dalam waktu dekat.
Namun, perlu diingat bahwa Yen memiliki sifat safe haven. Jika terjadi krisis besar secara mendadak, Yen justru akan menguat. Contohnya saat konflik Israel-Palestina meningkat tahun lalu, Yen terhadap mata uang lain melonjak dalam waktu singkat.
Bagi yang ingin berinvestasi dalam Yen, saran saat ini adalah:
Jika hanya untuk keperluan perjalanan atau belanja, lakukan pembelian secara bertahap, jangan langsung sekaligus.
Jika ingin melakukan trading valas, bangun sistem monitoring rapat terhadap rapat bank sentral Jepang, data ekonomi AS, dan peristiwa risiko global.
Fokus pada rapat bank sentral Januari, data CPI Maret, dan volatilitas pasar saham AS yang mempengaruhi arus arbitrase.
Akhirnya, Yen akan kembali ke posisi semestinya, tapi proses ini mungkin lebih lama dari yang dibayangkan. Sebelum itu, manajemen risiko dan pengelolaan dana tetap menjadi prioritas utama.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Analisis Tren Yen Jepang Tahun 2026: Tarikan Kebijakan Bank Sentral dan Spread Suku Bunga AS-Jepang
Mengapa Yen Jepang terus melemah? Pertanyaan ini mengganggu banyak orang yang ingin masuk ke pasar investasi Yen. Dari posisi tertinggi 157 di awal tahun, terus menurun ke lebih dari 140, lalu rebound ke sekitar 156 saat ini, fluktuasi Yen membuat orang agak bingung. Tapi jika melihat data dan langkah bank sentral secara cermat, sebenarnya logikanya cukup jelas.
Dari Sejarah Mengapa Yen Terus Terdepresiasi
Untuk memahami kondisi saat ini, kita perlu melihat ke belakang. Sejarah depresiasi Yen sebenarnya adalah evolusi kebijakan bank sentral.
Gempa besar Jepang tahun 2011 adalah titik balik. Bencana nuklir memicu krisis energi, Jepang mulai membeli dolar dalam jumlah besar untuk membeli minyak, sementara ekspor pariwisata dan produk pertanian terganggu, pendapatan devisa turun drastis. Bencana ini langsung memukul Yen.
Tahun 2013 adalah titik balik sebenarnya. Gubernur bank sentral baru, Haruhiko Kuroda, meluncurkan QE besar-besaran yang belum pernah dilakukan sebelumnya, berjanji akan menyuntikkan likuiditas setara 1,4 triliun dolar dalam dua tahun ke pasar. Hasilnya? Pasar saham naik, tapi Yen melemah hampir 30% dalam dua tahun. Ini memberi pelajaran mendalam: kebijakan pelonggaran adalah musuh utama Yen.
Tahun 2021 adalah momen penting lainnya. Federal Reserve mulai mengetatkan kebijakan, sementara Bank Jepang masih tidur. Saat ini, arus arbitrase mulai marak—investor meminjam Yen dengan suku bunga sangat rendah, lalu menginvestasikan ke aset dolar berimbal tinggi. Semakin baik ekonomi global, semakin besar tekanan Yen untuk melemah, karena tidak ada yang mau memegang mata uang tanpa imbal hasil.
Apa yang Terjadi Sekarang? Mengapa Yen Masih Melemah
Pada tahun 2025, Bank Jepang akhirnya bergerak. Januari menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 0,5%, Desember naik lagi 25 basis poin ke 0,75%—ini level tertinggi sejak 1995. Terlihat agresif, tapi apa reaksi pasar? Yen tetap melemah. Ini tampak kontradiktif, tapi sebenarnya mencerminkan kenyataan: selisih suku bunga AS-Jepang masih sangat besar.
Suku bunga AS masih di kisaran 3,25%-3,5%, sedangkan Jepang hanya 0,75%. Selisih ini cukup besar untuk membuat investor rasional terus meminjam Yen dan berinvestasi di dolar. Ditambah lagi, Bank Jepang sendiri mengakui bahwa suku bunga riil masih di zona negatif, artinya secara praktis Bank Jepang masih melakukan pelonggaran secara tidak langsung.
Tekanan lain datang dari keuangan pemerintah. Perdana Menteri baru, Sanae Takaichi, meluncurkan paket stimulus besar, penerbitan obligasi pemerintah meningkat, risiko defisit anggaran meningkat. Pasar khawatir akan meningkatnya premi kredit Jepang, yang lagi-lagi menekan Yen.
Ditambah lagi, perekonomian Jepang sendiri yang lemah. Konsumsi domestik tidak menunjukkan pertumbuhan yang kuat, GDP kadang bahkan negatif, daya beli riil tertekan. Bank sentral dalam kondisi ini memiliki ruang kenaikan suku bunga yang terbatas—siapa yang mau mempercepat kenaikan suku bunga dan memicu resesi?
Sebaliknya, perekonomian AS relatif stabil. Meskipun inflasi sudah mulai menurun dari level tinggi, tetap ada kekakuan. Pemerintah Trump meluncurkan kebijakan dolar kuat dan tarif, yang mendukung indeks dolar. Akibatnya, USD/JPY dari lebih dari 140 di April naik ke sekitar 155-157 saat ini.
Bagaimana Pandangan Institusi terhadap Tren Yen 2026
Wall Street saat ini cukup pesimis terhadap Yen. Ada dua prediksi utama:
Suara paling pesimis berasal dari JPMorgan. Kepala strategi valas Jepang, Junya Tanase, memperkirakan Yen bisa turun ke 164 pada akhir 2026. Alasannya sederhana: fundamental Yen sangat lemah, tahun depan sulit ada perbaikan mendasar. Bahkan jika Bank Jepang terus menaikkan suku bunga, dengan suku bunga di ekonomi lain yang juga naik, keunggulan relatif ini akan terkikis.
Prediksi yang kurang pesimis datang dari BNP Paribas di Paris. Strategi valas Asia mereka, Parisha Saimbi, memperkirakan Yen akan turun ke 160 pada akhir 2026. Logikanya, tahun depan kondisi makro global masih relatif mendukung aset risiko, yang menguntungkan arbitrase. Dengan mempertimbangkan keberlanjutan arbitrase, sikap hati-hati Bank Jepang, dan kemungkinan Federal Reserve lebih hawkish dari perkiraan, pasangan USD/JPY akan tetap di kisaran tinggi.
Kedua institusi ini sepakat: Yen dalam jangka pendek sulit mengalami pembalikan.
Apa yang Bisa Mengubah Nasib Yen
Untuk menilai masa depan Yen, Anda perlu memperhatikan beberapa variabel berikut:
Pertama adalah langkah selanjutnya Bank Jepang. Rapat 22-23 Januari sangat penting. Jika Ueda dan Kuroda memberi sinyal hawkish yang jelas, misalnya menunjukkan jalur kenaikan suku bunga yang pasti, ini akan membantu menguatkan Yen. Sebaliknya, jika mereka menekankan risiko perlambatan ekonomi, Yen mungkin tetap melemah.
Kedua adalah kecepatan penyempurnaan selisih suku bunga AS-Jepang. Jika Federal Reserve mempercepat penurunan suku bunga karena perlambatan ekonomi, dan selisih suku bunga cepat menyempit, ini akan menguntungkan Yen. Tapi ekspektasi utama adalah Fed akan berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, bahkan mungkin lebih hawkish dari perkiraan, sehingga dolar tetap kuat.
Ketiga adalah sentimen risiko global. Yen selalu dijual saat risiko tinggi karena investor meminjam Yen untuk mencari imbal hasil tinggi. Jika pasar saham mengalami koreksi, dan arus arbitrase tutup posisi, Yen akan menguat kembali. Jadi, perhatikan volatilitas pasar saham AS dan arah kebijakan tarif, karena ini penting untuk prediksi tren Yen.
Keempat adalah data inflasi dan ekonomi. Jika CPI, PMI, dan GDP Jepang menunjukkan kekuatan, ini memberi ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Jika data melemah, bank sentral akan kembali ke pelonggaran, dan Yen akan terus melemah.
Berapa Lama Yen Akan Terus Melemah
Sejujurnya, dari sudut pandang ini, Yen kemungkinan besar tidak akan menunjukkan perbaikan signifikan hingga semester pertama 2026. Selisih suku bunga AS-Jepang, arbitrase, dan sentimen risiko global semuanya tidak mudah berbalik dalam waktu dekat.
Namun, perlu diingat bahwa Yen memiliki sifat safe haven. Jika terjadi krisis besar secara mendadak, Yen justru akan menguat. Contohnya saat konflik Israel-Palestina meningkat tahun lalu, Yen terhadap mata uang lain melonjak dalam waktu singkat.
Bagi yang ingin berinvestasi dalam Yen, saran saat ini adalah:
Akhirnya, Yen akan kembali ke posisi semestinya, tapi proses ini mungkin lebih lama dari yang dibayangkan. Sebelum itu, manajemen risiko dan pengelolaan dana tetap menjadi prioritas utama.