Kabar beredar tentang arahan baru dari Washington yang bisa mengguncang lanskap moderasi konten. Kabarnya, pemerintahan saat ini ingin memperlambat proses aplikasi visa AS untuk siapa pun yang pernah bekerja sebagai pemeriksa fakta atau moderator konten di luar negeri.
Memo Departemen Luar Negeri yang bocor menginstruksikan kedutaan untuk menelusuri latar belakang pelamar—khususnya mencari riwayat keterlibatan dalam apa yang mereka sebut sebagai aktivitas "sensor". Jaring yang mereka lempar cukup luas.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan di luar kebijakan imigrasi. Bagi kita yang mengamati ruang teknologi terdesentralisasi, ini menyentuh perdebatan yang lebih besar tentang siapa yang mengendalikan arus informasi dan apa yang dianggap sebagai tata kelola konten yang sah versus sensor yang sebenarnya. Komunitas kripto selalu sensitif terhadap batas-batas ini, mengingat bagaimana platform terpusat secara historis menangani diskusi seputar aset digital.
Apakah pergeseran kebijakan ini benar-benar akan ditegakkan secara praktis atau hanya sebagai sikap simbolis masih harus dilihat. Namun, ini jelas merupakan sinyal tentang posisi pemerintahan terhadap praktik moderasi konten—sesuatu yang patut diperhatikan seiring semakin seringnya perdebatan ini bersinggungan dengan pengembangan Web3 dan platform komunikasi terdesentralisasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
23 Suka
Hadiah
23
8
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
OnChainDetective
· 2025-12-11 05:08
nah ini terlihat seperti tekanan yang diatur. perhatikan aliran transaksi saat penolakan visa mulai—selalu ada pola sebelum narasi resmi diumumkan
Lihat AsliBalas0
OldLeekNewSickle
· 2025-12-11 03:44
哈...这是要把"言论管制"定义权夺回来啊,故事讲得真不错
Balas0
LiquidatedAgain
· 2025-12-11 00:36
Ha, keluar lagi? Masalah kendali aliran informasi, kita para crypto paling paham. Sama seperti margin call, titik risiko yang disentuh langsung otomatis dilikuidasi.
Lihat AsliBalas0
MEVHunterNoLoss
· 2025-12-08 05:54
Gila, ini secara tidak langsung membersihkan para pelaku yang ramah terhadap crypto ya...
Lihat AsliBalas0
quietly_staking
· 2025-12-08 05:54
Ngakak, cek fact-checker? Orang ini benar-benar menganggap kebebasan berpendapat itu hal yang buruk.
---
Tunggu, bukankah ini sebenarnya pembersihan orang-orang yang berbeda pendapat, cuma dibungkus atas nama anti-sensor?
---
Web3 adalah jalan keluar yang sebenarnya, biar para birokrat itu nggak bisa lagi mengatur hak berbicara kita.
---
Hah? Jadi sekarang berkata jujur pun harus disensor? Ironis sekali.
---
Kebijakan ini bisa jalan terus itu ajaib, cuma sekadar sandiwara saja.
---
Duh, atas nama anti-sensor tapi ujung-ujungnya tetap sensor juga, cuma ganti bungkus aja.
---
Waduh, benar-benar membalikkan konsep tata kelola internet.
---
Apa ini sedang menyiapkan jalan buat platform komunikasi yang terdesentralisasi?
---
Sensor pendapat nggak pernah berhenti, cuma ganti departemen aja.
Lihat AsliBalas0
DefiOldTrickster
· 2025-12-08 05:45
Ha, ini jadi seru, mem-blacklist semua fact-checker, justru independensi informasi Web3 kita jadi makin berharga.
Lihat AsliBalas0
SerumSqueezer
· 2025-12-08 05:41
Haha, kali ini benar-benar terjadi, kebebasan berbicara akan dibatasi lagi.
Lihat AsliBalas0
BridgeJumper
· 2025-12-08 05:40
Gila, kebijakan ini benar-benar keterlaluan, fact-checker saja mau diban? Bukankah ini memang ingin menguasai narasi?
Kabar beredar tentang arahan baru dari Washington yang bisa mengguncang lanskap moderasi konten. Kabarnya, pemerintahan saat ini ingin memperlambat proses aplikasi visa AS untuk siapa pun yang pernah bekerja sebagai pemeriksa fakta atau moderator konten di luar negeri.
Memo Departemen Luar Negeri yang bocor menginstruksikan kedutaan untuk menelusuri latar belakang pelamar—khususnya mencari riwayat keterlibatan dalam apa yang mereka sebut sebagai aktivitas "sensor". Jaring yang mereka lempar cukup luas.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan di luar kebijakan imigrasi. Bagi kita yang mengamati ruang teknologi terdesentralisasi, ini menyentuh perdebatan yang lebih besar tentang siapa yang mengendalikan arus informasi dan apa yang dianggap sebagai tata kelola konten yang sah versus sensor yang sebenarnya. Komunitas kripto selalu sensitif terhadap batas-batas ini, mengingat bagaimana platform terpusat secara historis menangani diskusi seputar aset digital.
Apakah pergeseran kebijakan ini benar-benar akan ditegakkan secara praktis atau hanya sebagai sikap simbolis masih harus dilihat. Namun, ini jelas merupakan sinyal tentang posisi pemerintahan terhadap praktik moderasi konten—sesuatu yang patut diperhatikan seiring semakin seringnya perdebatan ini bersinggungan dengan pengembangan Web3 dan platform komunikasi terdesentralisasi.