
Aliansi Perbankan Eropa, CEO Qivalis Jan-Oliver Sell baru-baru ini mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dalam sistem keuangan global yang kian “bergelar” ke atas rantai (on-chain), euro menghadapi risiko pinggiran sistemik. Dalam transaksi on-chain, porsi euro hanya sekitar 0,2%. Qivalis didukung oleh 12 bank utama Uni Eropa seperti ING dan BBVA, dan berencana menerbitkan stablecoin euro di bawah kerangka peraturan MiCA (Markets in Crypto-Assets).
Sell menyoroti inti masalahnya: “Jika kita tidak memiliki perdagangan euro on-chain dengan likuiditas yang memadai, maka satu-satunya opsi pengganti adalah dolar. Ini menimbulkan risiko nyata terhadap keuangan Eropa dan kedaulatan digitalnya.”
Saat ini, kapitalisasi pasar stablecoin telah mencapai sekitar 314 miliar dolar AS, dipimpin token berdenominasi dolar seperti USDT dari Tether dan USDC dari Circle. Menurut prediksi Jefferies, pasar ini dapat meningkat menjadi antara 800 miliar dolar AS hingga 1,15 triliun dolar AS dalam lima tahun ke depan. Seiring aktivitas keuangan yang makin cepat berpindah ke infrastruktur berbasis blockchain—mulai dari perdagangan mata uang kripto hingga DeFi dan pembayaran lintas negara—ketiadaan stablecoin euro dengan likuiditas yang memadai akan membuat Eropa secara struktural bergantung pada infrastruktur berbasis dolar.
Sell juga menunjukkan dampak keuangan langsung bagi pengguna euro: pengguna Eropa yang memakai produk on-chain berdenominasi dolar AS harus menanggung risiko volatilitas nilai tukar; fluktuasi kurs dapat secara langsung mengikis imbal hasil investasi yang dihitung dalam dolar AS, sehingga pengguna euro berada pada posisi yang secara struktural kurang menguntungkan dalam keuangan on-chain.
Sell menyatakan bahwa masalah inti pasar stablecoin euro sebelumnya adalah fragmentasi: “Beberapa bank berusaha menerbitkan token mereka masing-masing, yang hanya akan makin memecah-belah pasar. Hanya dengan menggabungkan berbagai institusi, kita bisa menciptakan saluran peredaran dan likuiditas yang diperlukan.”
Penekanan utama Qivalis adalah pada infrastruktur, bukan sekadar token. Qivalis berencana mengintegrasikan bursa, lembaga kustodian, dan platform DeFi untuk membangun ekosistem lengkap di sekitar euro di public blockchain:
Model Aliansi 12 Bank: memusatkan saluran peredaran, menghindari persaingan likuiditas dari banyak token yang terpecah, serta menciptakan efek skala pasar
Kerangka kepatuhan MiCA: menerbitkan di bawah standar regulasi Uni Eropa, memberikan jaminan kepatuhan level institusional, dan menarik masuknya keuangan tradisional
Antarmuka euro asli (native) pada public chain: berperan sebagai “antarmuka antara euro dan blockchain”, sehingga dapat diintegrasikan ke skenario on-chain apa pun yang membutuhkan euro
Menarik permintaan lewat keunggulan nilai tukar: untuk pengguna Eropa yang menggunakan produk on-chain berdenominasi dolar AS, menyediakan opsi alternatif guna menghindari risiko valuta asing
Aksi dari aliansi bank swasta ini terjadi di tengah latar ketika Bank Sentral Eropa (ECB) masih mendorong program digital euro—ECB berencana meluncurkan digital euro paling cepat pada 2029. Sell menegaskan bahwa Qivalis adalah stablecoin privat yang bergantung pada public blockchain; sedangkan rencana ECB bergantung pada infrastruktur yang tersentralisasi. Keduanya saling melengkapi, bukan saling bersaing.
Ia menggambarkan sebuah arsitektur “tumpukan uang” (money stack): mata uang bank sentral ada di sistem tersentralisasi, sementara skenario bisnis seperti pembayaran lintas negara dan penyelesaian on-chain yang membutuhkan jaringan publik memerlukan aset euro native di public blockchain—yang menjadi celah yang hendak diisi oleh rencana Qivalis.
“Kami sedang berupaya membangun fondasi kedaulatan digital Eropa. Jika kami tidak bisa melakukannya, kami akan menghadapi dolar-ization.” kata Sell, seraya menekankan bahwa tujuan bukan menggantikan dolar, melainkan memastikan euro tetap memegang posisi yang semestinya dalam sistem keuangan global yang berkembang cepat.
Qivalis adalah stablecoin privat yang didukung oleh 12 bank utama Uni Eropa, diterbitkan di bawah kerangka MiCA, diimplementasikan pada public blockchain, dan diperkirakan akan diluncurkan pada paruh kedua 2026. Digital euro ECB bergantung pada infrastruktur tersentralisasi, dan direncanakan meluncur paling cepat pada 2029; keduanya berposisi saling melengkapi, bukan bersaing.
Meski euro memiliki 20% hingga 25% dari aktivitas perdagangan di pasar keuangan tradisional secara global, sebelumnya tidak ada stablecoin euro yang memiliki likuiditas memadai dan penyebaran yang luas. Sementara itu, token berdenominasi dolar seperti USDT dan USDC telah tertanam secara mendalam dalam pasar kripto global serta infrastruktur DeFi, membentuk dominasi struktural yang jelas.
Saat ini, anggota yang sudah dikonfirmasi mencakup 12 bank utama Uni Eropa seperti ING, UniCredit, dan BBVA. Daftar anggota lengkap belum dipublikasikan seluruhnya; jadwal peluncuran bergantung pada timeline izin dari bank sentral Belanda.